Selasa, 15 Januari 2013

KEBUGARAN JEMAAH HAJI


KEBUGARAN JEMAAH HAJI

Sebentar lagi seluruh jemaah Haji Indonesia akan mulai berangkat ke tanah suci. semua persiapan harus dalam kondisi prima termasuk persiapan kesehatan jemaah.
Kesehatan  adalah modal dalam perjalanan ibadah haji, tanpa kondisi kesehatan yang sangat memadai niscaya kekhusukan pencapaian ritual peribadatan tidak optimal. Oleh karena itu setiap calon jemaah haji harus memiliki kemampuan fisik yang memadai atau memiliki kebugaran yang baik.
Perjalanan melaksanakan haji adalah perjalanan fisik yang membutuhkan kemampuan fisik yang maksimal. Bayangkan seorang CJH yang mulai berangkat dari rumahnya dengan segala macam ritual acara pelepasan. Mulai dari acara tepung tawar atau acara doa selamatan akan berangkat haji,baik  ditingkat RT/RW sampai acara pelepasan di kecamatan dan bahkan acara pelepasan oleh bupati/walikota
Mereka akan menempuh perjalanan dengan berbagai cara, baik dengan kendaraan air maupun dengan pesawat udara menuju embarkasi . Setelah sampai di aula asrama haji disambut pula dengan acara ritual penyambutan oleh pemerintahan setempat atau oleh walikota/bupati dari asal jemaah . Belum hilang letihnya mereka para CJH harus dilakukan pemeriksaan kesehatan yang terakhir oleh tim kesehatan haji embarkasi, setelah itu selesai mereka diberi gelang identitas, uang bekal ( living cost ), BKJH, paspor hijau, dan sambil menenteng tas jinjing mereka diarahkan masuk asrama yang telah ditetapkan. Didalam asramapun mereka tidak dapat tidur-tiduran  atau berleha-leha agak sejenak, sebab berbagai kegiatan sudah menunggu didepan mata, mulai dari sholat berjemaah, makan bersama di aula ruangan makan, dan bahkan kalau mungkin manasik haji terakhir sebelum berangkat kebandara. Kemudian tanpa terasa saja tiba-tiba mereka sudah harus mempersiapkan diri untuk antri memasuki ruangan isolasi atau ruangan X-ray dan pemeriksaan dokumen. Lalu dilepas pula secara resmi oleh Bupati atau pejabat terkait
CJH diperintahkan membawa tas jinjing masing-masing memasuki bus yang telah ditetapkan , lalu bersama-sama dikawal oleh polisi menuju bandara . Setelah itu disuruh menunggu diruang loby, akhirnya calon jemaah haji diperintahkan memasuki pesawat  dan duduk selama 8 atau 9 jam sebelum mendarat di Jeddah atau di medinah
Selama di bandara King Abdul Aziz adalah waktu-waktu yang tak kalah melelahkan , mulai dari pemeriksaan yang super ketat dan berlapis-lapis, pemeriksaaan barang-barang bawaan, sampai mandi,berpakaian ihram, dan sholat sunat lalu segera masuk bus untuk berangkat ke kota suci mekkah
Sesampai di maktab sebelum kita tahu atau dapat kamar masing-masing kita dihadapkan dengan upaya mencari koper kita masing-masing . Hal inipun bukan perkara mudah, kita dihadapkan pada situasi yang super sibuk. Dimana 450 koper itu dimasukan oleh orang –orang kulit hitam itu dalam waktu yang sangat cepat, ya akhirnya mereka main banting dan main tumpuk saja.  Walaupun pencarian koper ini dikoordinasikan oleh ketua kloter atau ketua rombongan, ya yang namanya mencari koper sendiri tetap saja “ bagalau “. Apalagi bagi jemaah yang sangat tua, bagi jemaah yang pergi sendiri. ini amat melelahkan, saat inilah waktu yang amat rawan, akan terjadinya serang jantung,stroke  dan lain-lain.
          Setelah koper ditemukan , CJH harus cepat-cepat membawanya ke kamar masing-masing. Membawa koper ke kamar masing-masing tentu bukan masalah bagi yang dapat dilantai dasar, tetapi sangat berat bagi jemaah yang dapat dilantai diatasnya atau dimaktab yang terpisah. Aduh Masyaalah
Baru saja jemaah berada dalam kamar yang diisi oleh  6 atau 8 orang itu, tak berapa lama setalah itu mereka bersiap diri melaksanakan umrah wajib  bagi yang langsung kemekkah, dan melaksanakan sholat Arbain bagi yang langsung ke medinah.
Hari-hari di isi dengan berjalan kaki menuju masjidil haram untuk melaksanakan sholat wajib berjemaah. Kadang –kadang di isi dengn kegiatan ziarah ke jabal nur, jabal tsur, ke gua hira, kemesjid Jin, mesjid Kucing. Hari hari di isi berjalan kaki dari maktab kemesjid.
Setelah beberapa hari di kota mekkah ini, ritual haji berikutnya adalah berangkat ke Arafah, lalu mabid di Musdalifah dan kemudian bermalam di mina selama 3 malam. Setiap hari jemaah haji berjalan kaki dari maktabnya ke tempat melempar jumarat.Aqabah, ulla dan wustha
Setelah selesai melaksanakan ritual melempar jumrah , jemaahpun bersiap-siap kembali ke Mekkah untuk melakukan tawaf. Setelah itu hari-hari di mekkah ini di diisi dengan sholat wajib berjemaah, kemudian diakhiri dengan tawaf wadak setelah itu bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia.
Setelah sampai di Embarkasi di Indonesia, para haji dan hajjah disambut bagaikan pahlawan oleh para keluarga, masyarakat bahkan oleh para pejabat.
Diaula asrama haji ,bapak haji dan ibu hajjah disuruh duduk manis dan hidangkan teh panas serta kue segar, sambil mendengarkan laporan serah terima ketua kloter kepada pejabat embarkasi.
Test Harvard.
Seandainya seorang jemaah haji dalam menjalankan ritual haji dalam 1 hari menempuh perjalanan dengan jalan kaki sepanjang 10 km lalu bila di kali 40 hari , maka tentu jemaah akan berjalan kaki sepanjang 400 km selama masa haji. Perjalanan sepanjang itu tidak dapat kita lalui dengan baik ,kecuali kita mempunyai kebugaran tubuh yang maksimal. Lalu bagaimana kita dapat menentukan kebugaran jasmani seorang calon jemaah haji ?
Metode “ Harvard step test “ adalah jawabannya. Ini merupakan tes kebugaran dengan cara perlakuan naik turun bangku untuk mengetahui kesanggupan kardiovaskuler seseorang dengan parameter penilaian frekwensi nadi.
Tes ini diindikasikan untuk semua calon jemaah haji, kecuali yang memiliki kontra indikasi ( menderita penyakit jantung dan paru ) serta kepada pendamping CJH resiko tinggi.
Alat ini sangat sederhana yang terdiri dari 1 buah stop watch,1 buah bangku Harvard setinggi 19 inci, dan 1 buah metronome  dengan frekwensi 2 kali ayunan perdetik.
Caranya pun sangat mudah, yakni dengan  awalnya CJH disuruh turun naik bangku sesuai dengan irama bunyi metronome yang dilakukan tidak lebih dari 5 menit. Setelah itu CJH disuruh duduk dan dihitung denyut nadinya selama 30 detik.3 kali berturut-turut, kemudian indeks kesanggupan jasmani ditentukan dari lama naik turun bangku  dalam detik dikali seratus dibagi dengan 5,5 kali harga denyut nadi selama 30 detik pertama.
Apabila nilainya kurang dari 50 maka kebugarannya di sebut kurang, bila nilainya antara 50-80 maka kebugarannya disebut sedang, dan bila diatas 80 maka kebugarannya disebut baik.
Kekhusukan dan kenikmatan melaksanakan ibadah haji salah satunya ditentukan oleh kesehatan CJH yang sangat prima. Kesehatan yang prima ditentukan oleh kebugaran jasmani. Kebugaran jasmani yang baik merupakan salah satu modal untuk mendapatkan haji yang mabrur.Semoga haji mabrur. *Dr.H.Jondri Akmal, Mahasiswa Magister MARS Unand dan TKHI 2005/2006  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar